Dalilnya Sama Logikanya Beda

Penulis : Syarif Maulana Datundugon, Da’i dan Pengajar di Pondok Al-Islam Gorontalo

KAUM Liberal, Mulhidin, Munharifin, dan Mubtadi’in, memiliki Dalil Aqli yang sama untuk membenarkan ritual kesesatan mereka… Dan untuk menipu umat bahwasanya amalan mereka merupakan ajaran Islam.

Ketika mereka dinasihati dengan Al-Qur’an dan As-sunnah mereka menjawab dengan Logika, walaupun ritualnya berbeda yang terpenting tujuannya adalah Allah, maka akan diterima insya Allah.

Mereka melanjutkan seperti ente pergi ke jakarta walaupun jalannya berbeda tapi toh tetap sampai juga, tinggal ente memilih mana jalan yang paling nyaman dan aman, mau lewat jalur udara, laut dan darat sama aja.

Mereka melanjutkan logika kacau mereka yang membuat orang semua yakin bahwa apa yang mereka amalkan adalah benar dari Islam. Mereka katakan bahwa untuk mendapatkan Angka 10 ente tidak harus membuat penjumlahan 5+5, ente juga bisa menjumlahkannya dengan 6+4, 3+7, 2+8, 9+1.  Yang manapun kau gunakan toh hasilnya tetap 10.

Sekilas dalil mereka masuk akal dan bisa diterima. Akan tetapi pendalilannya yang perlu dikritik karena terlihat terlalu memaksakan kehendak. Mari kita bongkar syubhat dari logika mereka.

Perlu diketahui “KEBENARAN” suatu ritual dan amalan dalam agama haruslah dikembalikan kepada Pemilik Agama itu sendiri dan manusia yang dipilih untuk mengurus agama ini yaitu Nabi dan Rosul.

Apalagi itu adalah sebuah ritual, SEMUA ULAMA Dari Ahlussunnah wal jama’ah dan kelompok menyimpang, sepakat bahwasanya RITUAL IBADAH DAN AMALAN dalam Islam sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Assunnah keseluruhannya, ditambah lagi dengan Ijma’ ulama dan Qiyas.

Jadi garis bawahi KEBENARAN AMALAN DAN IBADAH haruslah dikembalikan pada ALQUR’AN, SUNNAH, IJMA’, atau QIYAS.

Jika demikian maka kita akan tahu mana yang salah dan mana yg benar. Sebalikknya jika kita mengembalikannya kepada pribadi masing-masing, maka yang terjadi adalah logika.

“Menurut dia amalannya benar, sedangkan amalan yang lain juga benar yang penting tujuannya sama”

Mereka berpatokan jika SATU TUJUAN maka proses apapun yg dilakukan akan menjadi benar. Contoh 5+5=10, begitupun 7+3, 4+6 dan lain-lain.

Maka kami katakan LOGIKANYA BENAR, akan tetapi pemahamannya yg salah. Perhatikanlah….

Jika SATU TUJUAN akan membenarkan prosesnya. Maka :

  1. Allah tidak akan mengirim Rosul kepada Manusia penyembah berhala zaman jahiliyah, toh mereka menyembah berhala dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah, mereka menyembah berhala tapi tujuannya ALLAH, apakah ini benar? Tidak, ini suatu kesalahan besar TUJUAN YANG BENAR DENGAN PROSES YANG SALAH MAKA DALAM AGAMA TIDAKLAH BENAR.
  2. Kisah tiga pemuda yang begitu bersemangat dalam beramal mengikuti Nabi Shollallahu Alaihi Wasalam, dengan menjalankan ibadah yang ini DALILNYA JELAS DAN MEMANG DIPERINTAHKAN yakni Berpuasa, Sholat malam, dan satu menjauhi wanita (tidak menikah). Kedua hal tersebut ada dalilnya kecuali yang ketiga jelas menyimpang, tapi perlu digarisbawahi tujuan dari 3 hal tersebut Adalah Allah. Lantas apa yg terjadi? Nabi marah, dan menyatakan mereka SALAH dalam beragama. Jadi KEBENARAN DALAM BERAGAMA JANGAN DIKEMBALIKAN KEPADA PRIBADI BRO.
  3. Logika 5+5=10, begitupun 7+3, 2+8 dan lain-lain. Kita katakan Logikanya benar, bahkan kita akan membantah mereka juga dengan logika ini. Kita katakan berdasarkan logika itu, apapun amalan yang kita lakukan, selama syariat memerintahkannya maka itu benar walaupun berbeda satu dan lainnya.

Contoh : ketika seorang ingin sujud, ada yg mendahulukan lutut terlebih dahulu, ada juga sujud dengan meletakkan kedua tangannya terlebih dahulu. Keduanya berbeda namun syariat memandangnya BENAR bukan karena TUJUANNYA adalah SUJUD, tapi karena Syariat membenarkan dua cara tersebut fahamkan? adapun kalau berpatokan kepada TUJUAN maka akan tersesat dalam beribadah, sehingga ketika ingin sujud dia mendahulukan kepalanya duluan. Apakah ini benar? Tentu tidak, bahkan anda akan dinilai ALIRAN SESAT WALAUPUN ENTE MENGATAKAN TUJUANNYA ADALAH SUJUD. FAHAMKAN?

Jadi kita katakan logika diatas benar, selama proses pengamalannya dibenarkan dan direkom oleh syariat, maka kita katakan benar. Selama syariat membenarkan 5+5 atau 3+7 maka kita katakan benar. Intinya adalah ADANYA PERINTAH (DALIL).

Jadi jangan lagi tertipu dengan logika-logika murahan seperti ini. Ahlussunnah Wal Jama’ah itu lebih kuat logikanya.

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

 

BACA JUGA :  Ini Hasil Tes SKD CPNS Bolsel 2018 serta Peserta yang Berhak Ikut SKB