Religi  

Isra Mi’raj, Perjalanan Interstellar (II)

AGAR tidak mentok, baiklah kita teruskan tema kemarin ya:

Karena sang utusan pernah berpesan,

لا صالة لمن لا عرف نفسه
Tidak disebut (sempurna) sholat seseorang bila dia tidak mengenal dirinya.

Sebab itu lah EQUILIBRIUM perintah SHOLAT bukan hanya pada garis RITUAL semata, namun keseimbangan SEPI+RITUAL, dimana kondisi 24 jam tersebut berada dalam suasana SHOLAT.

Karena dalam satu ayat, SHOLAT itu dijadikan istrumen pencegah nahi munkar, dan pada ayat lain agar dijadikan instrumen SABAR dan PENOLONG secara personal, maka semestinya SHOLAT menjadi arena HARMONI DIRI ini dengan RABB, ALLOH SWT.

Otomatis, bila AROFA NAFSH, berarti sudah dipahami (scroll postingan ttg 3 intrumen dalam DIRI) ada 3 three unities eksistensial dalam tubuh ini. RABB/RUBH/RUH, JIWA N CASING/ JASAD.

Ketiga kesatuan ini sebenarnya adalah PUSAKA DIRI sesungguhnya manusia yang lebih dahyat dari senjata apapun, even senjata anti partikel atawa sedahsyat apapun dan sekalipun. Pertanyaan kemudian, SHOLAT seperti apa yang relasi JATI DIRI ini? SHOLAT apa yang menjadi pusaka diri ini?

BACA : Isra Mi’raj, Perjalanan Interstellar (I)

Pengertian ini sesungguhnya akan menjadi GEGAR, karena melawan per definisi dari tafsiran/ interpretasi yang selama ini dipraktekan. Tp tidak mengapa, akan dicoba dengan pendekatan jargon-jargon dalam religion kita sendiri.

Coba kita kaji ajaran Sang Utusan MUHAMMAD,
صلوا كما ريتموا نى اصلي

SHOLAT lah seperti kalian melihat SHOLAT ku.

It is mean, SEEING is BELIEVING.

Sang Utusan memerintahkan LIHATLAH, karena logika MELIHAT itu terkait dengan RASA, karena MELIHAT GERAKAN yang kemudian dari GERAKAN itu diPRAKTEKAN oleh Umatnya, maka sudah pasti, why should am I TAKBIRATUL IHRAM? what about RUKU’? What is it SUJUD? TUMANINAH? IFTIROSY? TAWARUK?

Itu akan jadi pertanyaan dan jadi PENGALAMAN dan PENGAMALAN yang bermakna BILA DIDIRIKAN, dimana saat setiap GERAKAN itu automatis DIRASAKAN. What is it feel???

Lalu DIRASAKAN apa, bagaimana, seperti apa?

Karena ketiga tadi, THREE UNITE itu menyatu dalam tubuh, MAKA itu lah JATI DIRI, AROFA NAFSH yang berupaya dirasakan tadi, even not in RITUAL, but every breathing. Itu maksud Kanjeng Rosul SHOLAT 24 jam, harmoni.

BACA JUGA :  Isra Mi'raj, Perjalanan Interstellar IV

RASA yang DIDIRIKAN itu semestinya menjalar hingga tahap molekular setiap sel DNA diri. Karena itu lah sel MITOKONDRIA yang menurut penelitian mengandung listrik yang maha dahsyat, lalu pertanyaan kemudian, siapa PENGENDALI energy di setiap SEL MITOKONDRIA ini, kl bukan diinherinisasi sebagai RUH/RUBH/RABB?

Logikanya, bila sudah MERASA hingga tahap MOLEKULAR tadi, maka itulah SHOLAT yang AROFA NAFSH.

Lalu, bagaimana SEEING is BELIEVING perintah agar melihat SHOLAT tadi, sementara dalam ruang ijtihadi ahli fiqh menjadi pertanyaan besar, betulkah Sang UTUSAN membaca al fatikah, surat2an dan dalam setiap gerakan? Dan SIAPA YANG SUDAH BERSAKSI pas RAITUMUUNI USHOLLI bhw Sang Utusan membaca seperti kebiasaan yang dilakukan sekarang? Apakah para perawi hadits, rawi nya dan sahabat tahu yang diBACA?

Lalu, dengan teknik RASA (bukan BACA) itu, maka ketiga bagian kesatuan dalam diri benar2 KHUDURI, ada, eksis-tensialisme?

Namun saat ini, harus diakui akhirnya makna sholat terjebak RITUAL melakukan, bukan lagi bermakna MENDIRIKAN… padahal INTI MENDIRIKAN itu bermakna AROFA NAFSH tadi.

Guys, realitas sejarah sekarenag ini yang membrain wash nalar menjadikan religion hanya sebatas RITUAL semata. Padahal harusnya keseimbangan RITUAL & SEPI+RITUAL dalam kehidupan sehari-hari, Karena inti SHOLAT adalah persoalan AROFA NAFSH, maka esensinya bersifat personality.

Sebab, Never seem feel hamony with RABB between u and each others.

Jadi, come on, SHOLAT tidak bisa jadi ukuran standar benar salah dalam ruang religion -bahkan kehidupan, Karena SHOLAT itu intinya akan berefek pada ETIKA, MORAL, AKHLAK. Lalu, apakah efek AKHLAK akan berbuat baik di muka bumi ini atau sebaliknya?

It is your choice …

Wilujeung Pangaosan Siang

BACA : Isra Mi’raj, Perjalanan Interstellar (I)

 

Penulis

WILMAN RAMADHAN

Pengamat Islam Dan Budaya