Religi  

Isra Mi’raj, Perjalanan Interstellar (III)

SEBELUM melanjutkan perjalanan INTERSTELLAR edisi III ini, alangkah baiknya membuka terlebih dahulu link di bawah ini.

https://m.facebook.com/…/mengintip-bena…/10150216192733872/…

Artikel tersebut ditulis 2011, dan mencoba mensinergiskan sejarah ajaran para utusan hingga Sang Utusan Kanjeng Muhammad.

Memang tulisan ini agak lebih terasa berat, karena masuk ke dalam ruang definisi SHOLAT jaman sekarang, yang menurut artikel tersebut sudah jauh MEMENDAR dari sejarah aslinya.

Terkait sejarah, mungkin artikel tersebut sudah mewakili akan relevansi pentingnya kesamaan teknis SHOLAT tersebut. Hanya saja, di sini sekarang “reinterpetasi” akan SHOLAT tidak hanya sebatas RITUAL, namun ke simbol lain yang seolah-olah melakukan “show off” kebenaran sebagai orang yang SHOLAT.

Padahal esensi sebenarnya hanya bermakna RITUAL, minus SEPI+RITUAL, bukan benar-benar SHOLAT 24 Jam seperti dalam tulisan edisi (II).

BACA : Isra Mi’raj, Perjalanan Interstellar (II)

Karena SHOLAT itu adalah keseimbangan RITUAL & SEPI+RITUAL, maka efek nya adalah AKHLAK dalam tatanan kehidupan seharusnya menjadi apik dan rapih.

Sayangnya, efek AKHLAK akibat SHOLAT keluar dari keadaan sebenarnya. Malahan tidak heran SHOLAT menjadi arena PA ALUS-ALUS BAJU, KOKO, KUPIAH, bahkan SAMPAI kain SARUNG atau SAJADAH, bahkan MUKENA warna warni yang semakin seksies sist euy!!!

Memang pernah ada hadits menyatakan bahwa Tuhan itu INDAH dan menyukai KEINDAHAN. Namun bukan berarti dipersonifikasi dalam ruang kontruksi budaya manusia sekarang. Ooh INDAH itu ternyata baju putih, mukena mahal, merek mont blanc, guess, atawa koko model gaul, or kopiah H. IMING, atau BHS kain SARUNG tenun sutera? Oh my gosh!!!

KEINDAHAN yang disukai oleh sang maha semesta itu adalah bukan KEINDAHAN SIMBOL tanda BAJU or apapun dari sebuah KEMELEKATAN. TAPI KEINDAHAN hambaNYA mengenal AROFA NAFSH dan NYAKSENI terhadap RABB ALLOH SWT yang berefleksi pada perilaku, sikap, ahlak yang teraplikasi dalam tatanan kehidupan sehari-hari.

Selain ini, ada juga penafsiran yang mulai keblinger, dimana
Isu MIN ATSARIS SUJUUD (bekas-bekas sujud) itu adalah tanda hitam yang terkesan SIGN dari sebuah kesucian diri dalam BERSUJUD. Padahal bersujud itu bukan berefek kepada simbol hitam yang melekat di jidat, namun SIKAP HAMBALAA, dimana diri ini, kepala ini, DIRI ini, benar-benar merendahkan serendah-rendahnya di hadapan sang maha pencipta, karena tidak ada yang PATUT dibanggakan dan disombongkan dari DIRI ini. Semua yang ada hanya MILIKNYA. karena itu lah, sikap SUJUD itu semestinya 24 jam merendahkan diri serendah-rendahnya, MENGHAMBA karena bersyukur kepada NYA.

BACA JUGA :  Ini Penjelasan UAS Soal Artis, Film dan Adegan Romantisnya

Akhirnya, sekarang semakin jelas, kenapa kita tidak INHERN MENYATU saat SHOLAT? karena ruang tafsir yang MEMENDAR tadi, juga peran elit agamawan yang tidak menjelaskan secara detail makna arti SHOLAT per GERAKAN. Dan sekarang, pembaca setidaknya sudah bisa merelasikan sebuah benang merah, bagaimana posisi GERAKAN, SHOLAT menjadi sesuatu yang HARUS DIRASA, bukan hanya sekedar dibaca-baca.

RASA itu pun akan berefleksi kembali ke DIRI, karena itu lah menDIRIkan, artinya back to self, to BAITULLOH.

Sekiranya artikel di atas itu dipahami setiap per GERAKAN dan makna arti-artinyanya, itu lah halaman awal ketika kita mencoba mengetahui BAITULLOH.

Ooh ternyata gerakan TAKBIRATUL IHROM, RUKU, TUMANINAH, SUJUD, IFTIROSY, TAWARUK itu maknanya itu. Dari makna itu, lalu apa yang dilakukan, adalah MERASA SESUATU itu setiap GERAKAN inhern dimana ketiga elemen RUH, JIWA, CASING menyatu dalam DIRI, men-DIRI-kan.

Begitu indah nya SHOLAT meRASA dengan cara men-DIRI-kan, karena ternyata AROFA NAFSH itu begitu eksotis. Membuka halaman rumah, lalu mengetuk BAITULLOH, dan SIDAKEP MERASA begitu maha nya SANG RABB ALLOH SWT.

Karena BAITULLOH itu sebenarnya adalah RUMAH ALLOH bukan dalam pengertian gedung, berlantai keramik, beralaskan karpet persia, atau ber ac dingin, namun BAITULLOH itu adalah DIRI ini, kembali ke DIRI, RUMAH DIRI, kembali SUCI. Sehingga, SHOLAT saat suasana itu terasa INDAH, menyenangkan dan LAMA, seperti DIRI ini benar-benar DISKUSI dan DIALOG dengan NYA. Tetiba, ujug-ujung shubuh ajja. oh my gosh, ti jam 2 ieu… eeh jadi 24 jam…. >>>bersambung…

 

Penulis

WILMAN RAMADHAN

Pengamat Islam Dan Budaya